Kamis, 23 Oktober 2014

Cara Mengatasi Persediaan Air Bersih di Sekolah-Sekolah Dalam Keadaan Darurat

Ditulis dan dipostingkan Oleh Admin Web.
Para pembaca Website SMP Negeri 1 Kayen yang berbahagia. Sekolah adalah tempat berlangsungya pembelajaran, adanya proses pembelajaran antara guru dan siswa di ruang kelas atau di lingkup sekolah. Di sebuah sekolah ada juga staf Tenaga Kependidikan. Yang jelas, sebuah sekolah mempunyai warga sekolah yang terdiri dari siswa, guru dan staff TU. Semakin besar sebuah satuan pendidikan semakin besar pula jumlah warganya. Jumlah warga sekolah bervariasi, ada yang berjumlah sekitar 100,200,300,400, 500,600,700,800,900,1000,2000,3000,4000 dst.

Setiap warga sekolah membutuhkan air untuk minum, air untuk kebersihan badan, untuk berwudhu sebelum menjalankan sholat dhuhur ataupun sholat ashar bagi yang beragama Islam. Air juga dibutuhkan bila kebelakang untuk buang air besar ataupun buang air kecil. Air minum guru dan staff bisa disediakan sekolah dengan membeli galon kemasan. Sedangkan air minum untuk siswa, siswa dapat membawanya sendiri dari rumah atau membeli dari kantin sekolah. Air untuk berwudhu di mushola sekolah,toilet siswa, toilet guru, kamar mandi guru dan karyawan dapat disediakan sekolah dengan pengadaan Air PDAM atau memompa air bersih dengan pompa air dari sumur-sumur sekolah.

Pada umumnya, air bersih di sekolah-sekolah sudah tersedia dengan cukup. Hal ini bila jaringan listrik tidak padam. Air dari PDAM dan air sumur yang dipompa ditaruh di tandonan air yang dialirkan ke kamar mandi,toilet-toliet,persediaan air wudhu di moshola sekolah. Bila dalam keadaan darurat suatu misalnya jaringan listrik mati maka secara otomatis sebagian besar air dari PAM juga ikut mati dan pompa air juga tidak dapat difungsikan. Sebagai akibatnya adalah kamar mandi bau, WC guru dan   WC siswa tidak dapat dipakai karena nggak ada air. Bila WC,Kamar mandi dipakai tanpa tersedianya air bersih dapat dipastikan terjadi penumpukan kotoran dan air seni. Dapat dikatakan sekolah menjadi berbau kotoran manusia atau air seni. Sehingga sekolah yang sehat dan bersih dalam sekejap berubah menjadi kotor dan jorok. Bila jaringan listrik mati 1 atau 2 jam tidak begitu masalah. Yang menjadi masalah besar adalah apabila jaringan listrik mati 1,2,3,4 hari.....bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi.

Sebenarnya ada cara tradisional untuk menaikkan air bersih dari sumur jubin sekolah yaitu dengan menyediakan timba dan tali. Tapi resikonya adalah sangat besar. Bila seorang siswa menimba untuk mendapatkan air bersih dari sumur jubin tersebut ada resiko siswa akan terpelanting sehingga masuk ke dalam sumur. Sehingga lebih baik bila sumur jubin/slontong di sekolah-sekolah seharusnya ditutup dan tidak disediakan  timba. Bila keadaan terpaksa bisa menggunakan pompa air yang dipompa dengan tangan. Tapi bisa kita bayangkan seberapa tenaga yang dibutuhkan.

Matinya jaringan listrik di sekolah-sekolah tak hanya menimbulkan kekurangan persediaan air bersih, tetapi juga menyebabkan tidak dapat beroperasinya kompiuter, laptop, notbook, printer, foto copy, resaw yang ada di sekolah-sekolah. Dengan demikian pekerajaan surat menyurat atau pembuatan file yang harus diselesaikan dalam waktu singkat juga akan terbengkelai.

Baiklah para pembaca, untuk mengatasi hal ini adalah lebih baik bila sekolah sekolah perlu mempunyai diesel atau genset untuk menghidupkan jaringan listrik yang ada di sekolah-sekolah dalam keadaan darurat. Kita semua menginginkan sekolah yang bersih dan indah. Sekolah yang nyaman untuk proses pembelajaran. Sekolah yang sehat. Dengan diesel atau genset, jaringan listrik bisa berfungsi mengalirkan air bersih untuk persediaan warga sekolah dalam keadaan darurat.  Selain itu pekerjaan yang ada hubungan dengan kompiuter dan printer tidak akan terbengkelai. Demikian...semoga artikel ini bermanfaat.

0 komentar :

Poskan Komentar