Gambar

SISWA PERINGKAT SEPULUH BESAR UN SMPN 1 KAYEN 2015

Gambar

BERGAMBAR BERSAMA DI HARI GURU NASIONAL 2014

Gambar

GAMBAR BERSAMA SETELAH PELEPASAN KELAS IX TAHUN 2013

Gambar

SMPN 1 KAYEN BERWISATA KE PANTAI KUTA PULAU BALI.

Gambar

JUARA 3, LOMBA PENELITIAN ILMIAH REMAJA, KAB. PATI 2013

Gambar

JUARA UMUM PENCAK SILAT BUPATI CUP 2014 KABUPATEN PATI

Gambar

SERAH TERIMA PENGURUS OSIS LAMA KE PENGURUS OSIS BARU

Sabtu, 21 Februari 2015

Pangeran Diponegoro

Dikutip dari berbagai sumber dan dipostingkan oleh Admin Web.
Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta, 11 November 1785.  Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. 

Pemerintah Republik Indonesia memberi pengakuan kepada Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.

Penghargaan tertinggi juga diberikan oleh Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) , pada 21 Juni 2013 yang menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. 

Sejarah Asal-usul Pangeran Diponegoro

Merupakan putra sulung Sultan Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk mengangkatnya menjadi raja mataram dengan alasan ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat Perjuangan Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro berawal saat pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Beliau muak dengan kelakuan Belanda yang tidak mau menghargai adat istiadat masyarakat setempat dan juga mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.Perjuangan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya Bupati Gagatan.

Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. 

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putera Pangeran Diponegoro. Pangeran Alip atau Ki Sodewo atau bagus Singlon, Diponingrat, diponegoro Anom, Pangeran Joned terus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. Empat Putera Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewo.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrawati. Perjuangan Ki Sadewa untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.

Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.


Penangkapan dan pengasingan

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro

Pada tanggal 20 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.

30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.

3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.

1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.

8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. 

Senin, 16 Februari 2015

Wage Rudolf Supratman

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Web. Sumber penulisan dari Materi Pengayaan Untuk Ujian Nasional Kelas IX SMP oleh Depdiknas.

Bacalah teks berikut dengan saksama kemudian kerjakan soal nomor 1 s.d 2!


Wage Rudolf Supratman lahir pada tanggal 9 Maret 1903 di Sumongari. Supratman sangat  pandai bermain sandiwara dan mahir bermain alat musik. Setiap waktu luang, ia manfaatkan untuk bermain musik terutama biola.
Keberaniannya mengutarakan pendapat membuat ia diangkat menjadi pembantu surat kabar Kaoum Moeda di Bandung. Meskipun gaji yang diperolehnya kecil, ia puas karena ia dapat dengan bebas mengutarakan pendapat serta pikiran dalam tulisan-tulisannya. W.R. Supratman  menulis dan menggubah lagu-lagu perjuangan untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Ia dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Pada saat ia diminta memperdengarkan lagu Indonesia Raya, dan  semua hadirin berdiri khidmat,  hal itulah yang tak terlupakan baginya. Ia bekerja tanpa pamrih. Dalam hidupnya, ia lebih suka memberi daripada menerima.
(Biografi Wage Rudolf Supratman, Soebagijo I.N.)

1. Indikator                : Mengidentifikasi  biografi tokoh
    Indikator Soal        : - menentukan hal yang dapat diteladani dari tokoh                                               
    Hal yang dapat diteladani dari tokoh tersebut adalah....
       A.   menjadi pembantu surat kabar
       B.   memperdengarkan lagu-lagu
       C.   suka memberi daripada menerima
       D.   mempunyai pengalaman tak terlupakan

  KUNCI JAWABAN  : C
  PEMBAHASAN                    :
    Kalimat yang dirujuk menggambarkan sikap dan sifat tokoh yang baik dan dapat dijadikan     teladan.

   2.   Indikator                 : Mengidentifikasi isi biografi tokoh
   Indikator Soal        : - menentukan keistimewaan tokoh

   Keistimewaan dari tokoh tersebut adalah 
       A.  Pembantu surat kabar Kaoum Moeda.
       B.   Pencipta lagu Indonesia Raya.
       C.   Pemain sandiwara sejak kecil.
       D.  Penulis berita di surat kabar.

KUNCI JAWABAN       : B
PEMBAHASAN             :


Kalimat yang dirujuk menggambarkan tidak semua orang dapat menciptakan lagu kebangsaan Indonesia yakni lagu Indonesia Raya.


Profil Lebih Lengkap dari Wage Rudolf Soepratman (Sumber: Merdeka.Com), Silakan baca artikel berikut:


Wage Rudolf Soepratman adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang telah dikukuhkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. WR Soepratman merupakan salah satu putra dari seorang sersan di Batalyon VIII bernama Senen. WR Soepratman lahir di Jatinegara, Jakarta pada tanggal 9 Maret 1903. Dia menamatkan sekolah dasarnya di Jakarta. Pada tahun 1914, WR Soepratman ikut kakak perempuannya yang bernama Roekijem pindah ke Makassar.
Di sana dia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik. Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool di Makassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2.


Setelah tidak lagi menjadi seorang guru, WR Soepratman kemudian bekerja di sebuah perusahaan dagang. Setelah beberapa waktu lamanya WR Soepratman memutuskan untuk pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Pekerjaan itu sendiri tetap dilakukannya meskipun akhirnya dia tinggal di Jakarta. Di Jakarta inilah, WR Soepratman mulai tertarik dengan organisasi pergerakan nasional yang akhirnya membuat dirinya banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan.


Rasa tidak senangnya terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda. Rasa cintanya terhadap Indonesia semakin hari semakin besar sehingga membuatnya ingin menyumbangkan sesuatu bagi perjuangan bangsanya. Tetapi, ia tidak tahu bagaimana caranya, karena ia hanya seorang wartawan dan pemain musik hingga suatu hari, secara kebetulan WR Soepratman membaca artikel berjudul Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat dalam majalah Timboel terbitan Solo. Membaca artikel ini, hati Soepratman tergerak. Dan merasa tulisan itu seolah ditujukan kepada dirinya.

Tidak ada catatan yang pasti kapan Soepratman menulis lagu kebangsaan. Ada pendapat yang menyatakan ia menciptakannya tahun 1926. Pada Kongres Pemuda Pertama (1926), Soepratman yang hadir ingin menawarkan kepada ketua kongres agar ia diberi kesempatan memperdengarkan lagu itu di hadapan para peserta namun karena keberaniannya belum cukup WR Soepratman akhirnya membatalkan niatnya. Baru pada Kongres Pemuda Kedua, tanggal 28 Oktober 1928, pada malam penutupan, WR Soepratman dengan gesekan biolanya mengiringi sebarisan paduan suara membawakan lagu Indonesia Raya.
Dua bulan setelah lagu ini diperkenalkan, ode tersebut menjadi sangat populer. Lagu ini kemudian banyak dinyanyikan dalam acara-acara penting. WR Soepratman kemudian memiliki ide untuk mengabadikan lagu perjuangan itu ke dalam piringan hitam. Untuk merealisasikan idenya, WR Soepratman lantas menghubungi Yo Kim Tjan yang akhirnya membantunya merekam, memperbanyak dan menjual piringan hitam berisi lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya. Dalam piringan tersebut, WR Soepratman memainkan biola sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan dua irama, mars dan keroncong.

Maraknya peredaran lagu Indonesia Raya ini, membuat WR Soepratman sering diinterogasi PID (intel Belanda) yang sempat berujung pada pelarangan peredaran lagu tersebut. Protes atas pelarangan lagu itu pun berdatangan dari berbagai pihak yang menyebabkan Volkraad turun tangan dimana akhirnya kata ”merdeka-merdeka” hanya boleh digunakan ketika lagu dinyanyikan di ruang tertutup. Hingga akhir hayatnya, WR Soepratman masih menjadi incaran polisi hindia Belanda karena telah menciptakan lagu Indonesia Raya sampai akhirnya dia jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir Matahari Terbit pada awal Agustus 1938, WR Soepratman ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM Jalan Embong Malang, Surabaya. WR Soepratman kemudian ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. WR Soepratman meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit. W.R. Soepratman hingga meninggal belum pernah menikah dan mengangkat seorang anak pun.

Untuk menyaksikan karya besar WR Soepratman lagu Indonesia Raya yang sekarang menjadi Lagu Kebangsaan republik Indonesia, silakn klik layanan Video dari You Tube berikut:

Kamis, 05 Februari 2015

Having a Trip To East Java

Written by Novemsia Adila  Grade IX A and posted by Admin Web


Permainan Air di Jatim Park 2
Last year, I followend recreation to East Java. I set out from home to school at 19.00. I was on bus that is bus number 2 class 8b and 8c. My trip to enjoy with a joyful heart, enjoy the silence in night on the bus. Tired eyes made me sound slept.
First, I visited the grave “Sunan Bonang”. I arrived there at 01.00. I had to walk quite a distance to ia and my friends made a pilglimage. After I finished pligrimage to the bus to continue the journey, then I arrived restourant there I took a shower, played together and ate breakfast with friends. After that, I went on a trip, on a bus played and song along with my friends. Do not feel I got a rock un fortunate.
Second, I visited “Apple Garden”. In Batu Malang the scenery there is very beautiful, the wind wass very cool rock unfortunate, because on top of the mountain. There were also many villas-villas whom no resident There I could settle to pick and eat apples. There were very sweet apple flavor, where I could also buy the photos and bought apples. I bought 1 kg apples at a price of Rp. 20.000. Once satisfied I continued on and reached the center by the “Brawijaya”. There I could buy by the price is quite affordable I bought by there. There,  I had lunch.


Pintu Gerbang  Jatim Park 2
Third, I visited the “Jatim Park 2”, where I saw the animals and pothos also play. There were not too many rides. I played because it was raining very heavy, when finished played, I bought souvenir. Once satisfied I returned to the bus and continued.
      
Makam Presiden Republik Indonesia
Ir Soekarno di Blitar Jawa Timur
 Fourth, I visited the “Grave Ir. Soekarno” in Blitar. There are not very satisfied because of Power outages al though dark. I and friends remain a pilgrimage there. There I could have dinner together. I was satisfied, I went home. Tired bodies made me have to rest and slept. I was very happy. I bought a lot by such ar T-Shirts, Sandals, hats and more. I was very happy to have recreation with my friends. It was one of my unforgettable experience
Uji Coba : Mencoba Disini
Uji Coba Kedua : nyoba ke 2

Minggu, 01 Februari 2015

Legenda Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang, Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Web

Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang merupakan Candi Hindu yang terletak di Klaten. Jawa Tengah, Indonesia. Ada cerita turun menurun yang beredar di masyarakat yaitu Legenda Candi Prambanan.

Secara singkat dikisahkan, pada jaman dahulu, Bandung Bodowoso dengan melihat kecantikan Roro Jonggrang, ia seketika jatuh cinta dan ingin memperistri Roro Jonggrang. Tetapi karena Roro Jonggrang telah mengetahui  bahwa Bandung Bondowoso telah membunuh Prabu Baka (ayah dari Roro Jonggrang) dalam pertempuran maka ia menolak keinginan Bandung Bondowoso.

Cara menolak cinta Bandung, Roro Jonggrang meminta Bandung Bondowoso untuk membuat seribu arca di sebuah candi dalam satu malam. Dengan bantuan makluk halus, di desa Prambanan, Bandung Bondowoso hampir dapat memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi setelah fajar tiba hanya 999 arca yang telah dapat dibuat oleh Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso mengetahui bahwa Roro Jonggrang telah memakai tipu daya sehingga ia tetap meminta Roro untuk menerima cintanya. Tetapi Roro Jonggrang tetap menolak. Karena marahnya Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggarng menjadi sebuah arca untuk melengkapi arca yang keseribu. Anehnya, Roro Jonggang menjadi arca beneran. Sehingga orang mengenal candi tersebut dengan Candi Prambanan karena terletak di Desa Prambanan atau disebut juga Candi Roro Jonggrang.

Nilai moral dari cerita atau Legenda Candi Prambanan tersebut adalah kita tidak boleh memaksa orang lain untuk mencintai diri kita.

Mencoba : Mencoba Narrative

Inilah Video dari Legenda tersebut dalam versi Bahasa Inggris :